Latar Belakang Pembangunan Masjid Trans
Masjid Trans hadir sebagai bentuk kepedulian Bapak Chairul Tanjung terhadap kebutuhan umat Muslim dalam menjalankan ibadah dengan nyaman di tengah aktivitas perbelanjaan. Seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung dan pekerja Muslim di pusat perbelanjaan, kebutuhan akan tempat ibadah yang representatif semakin mendesak. Oleh karena itu, Masjid Trans dibangun untuk menyediakan fasilitas ibadah yang layak, sehingga umat Muslim tetap dapat melaksanakan kewajibannya tanpa harus meninggalkan area perbelanjaan.
Selain itu, Bapak Chairul Tanjung melihat bahwa umat Muslim, khususnya di Indonesia, telah mencapai tingkat perekonomian yang semakin berkembang. Hal ini tercermin dari semakin banyaknya pengunjung pusat perbelanjaan, terutama kaum Muslimah, yang mengenakan busana syar’i namun tetap modis. Fenomena ini menunjukkan adanya keseimbangan antara kepatuhan terhadap nilai-nilai agama dan gaya hidup modern. Dengan latar belakang tersebut, beliau berinisiatif untuk membangun masjid yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga mencerminkan karakteristik masyarakat Muslim kelas menengah ke atas yang aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi. Keberadaan Masjid Trans di kawasan bisnis diharapkan dapat memberikan akses yang lebih mudah bagi umat Muslim dalam menjalankan ibadah, sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan mereka.
Masjid ini juga dibangun sebagai wujud bakti dan penghormatan kepada ibunda tercinta dari Bapak Chairul Tanjung. Melihat anaknya yang sukses dengan berbagai lahan bisnis seperti perhotelan, pusat perbelanjaan, televisi swasta, dan lain-lain tidak membuatnya merasa bahwa anak tercintanya telah memiliki kesuksesan selagi tidak ada masjid yang anaknya bangun. Dengan dorongan nilai-nilai spiritual dan bakti kepada orang tua, pembangunan masjid ini menjadi salah satu bentuk pengabdian yang mendalam bagi beliau.
Proses pembangunan berlangsung selama dua tahun dengan dana pembangunan yang diperkirakan mencapai sekitar 60 miliar rupiah, belum termasuk biaya pembelian lahan. Masjid ini resmi digunakan sebagai tempat ibadah pada bulan November 2014. Pada awalnya, masjid ini hanya melayani shalat wajib pada empat waktu, yaitu Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah jamaah dan kebutuhan fasilitas ibadah yang lebih lengkap, mulai April 2015, masjid ini juga membuka layanan untuk shalat Subuh.
Arsitektur Masjid Trans
Masjid Trans mengusung konsep arsitektur yang terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah. Keunikan arsitektur ini telah menyita banyak perhatian, terutama karena desain pilar-pilarnya yang dibuat menyerupai pilar di Masjid Nabawi. Pilar-pilar tersebut dihiasi dengan ornamen kaligrafi indah bertuliskan asma Allah serta penggalan ayat-ayat suci Al-Qur'an, menambah nuansa spiritual dan keagungan pada interior masjid.
Masjid ini memiliki lima kubah, dengan satu kubah utama yang dilapisi lembaran emas. Untuk menjaga keaslian dan ketahanan emas tersebut, lapisan tambahan dari bahan khusus diterapkan di atasnya. Jendela masjid dirancang dengan corak belang hitam-putih yang mengingatkan pada suasana Masjid Nabawi, sedangkan ornamen dalam masjid didominasi warna emas yang mencerminkan kemegahan dan ketenangan spiritual.
Pintu utama Masjid Trans juga terinspirasi dari pintu utama Masjid Nabawi di Madinah, memperkuat kesan autentik dari desainnya. Dengan kapasitas yang mampu menampung sekitar 2.500 jamaah, masjid ini dilengkapi dengan lantai utama serta mezanin di lantai dua untuk menambah daya tampung jamaah.
Pembangunan masjid ini menghabiskan dana kurang lebih 60 miliar rupiah, dan itu belum termasuk biaya pembelian lahan. Investasi besar ini dilakukan untuk memastikan bahwa Masjid Trans dapat memberikan kenyamanan dan kemegahan yang sebanding dengan masjid-masjid besar lainnya, sekaligus memberikan fasilitas ibadah terbaik bagi umat Muslim.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menyediakan fasilitas pendukung lainnya. Di bagian bawah masjid terdapat ruang ballroom yang dapat digunakan untuk berbagai acara seperti walimah urusy (pernikahan), pertemuan, dan perayaan lainnya. Hal ini menjadikan Masjid Trans tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai tempat yang mendukung berbagai kegiatan umat Muslim dalam kehidupan sosial dan keagamaannya.
Dengan berdirinya Masjid Trans, diharapkan tercipta keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kebutuhan spiritual umat Muslim. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah, tetapi juga menjadi simbol bahwa keberagamaan dan kemajuan ekonomi dapat berjalan berdampingan dalam kehidupan modern.
Tamu Spesial yang Mengisi Kajian
Masjid Trans juga menjadi pusat kajian keislaman yang menghadirkan berbagai ulama dan tokoh agama terkemuka. Setiap bulannya, masjid ini mengundang tamu spesial yang memberikan kajian mendalam tentang berbagai aspek kehidupan Islam, mulai dari fiqh, akhlak, hingga kajian tafsir Al-Qur'an. Kehadiran para ulama ini menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah yang ingin memperdalam pemahaman agama mereka. Dengan adanya kajian-kajian ini, Masjid Trans tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran Islam yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Banyak tamu agung yang pernah berkunjung ke masjid ini. Salah satunya adalah Imam Besar Masjidil Haram, yaitu Syekh Adil Alkalbani, serta muadzin dari Masjidil Haram. Selain itu, masjid ini juga pernah kedatangan tamu dari Palestina yang mengisi salah satu kajian. Tamu penting lainnya yang pernah mengisi kajian di Masjid Trans meliputi Syekh Ali Jaber, Aa Gym, Mamah Dedeh, Ustadz Hilman Fauzi, dan Ustadz Abdul Somad.
Tidak hanya ulama dan pendakwah, beberapa tokoh Muslimah juga pernah berbagi ilmu di masjid ini, seperti Indadari, Peggy Melati Sukma, dan Ummi Pipik Dian Irawati. Masjid ini juga pernah dikunjungi oleh tokoh masyarakat, di antaranya Gubernur Jawa Barat periode 2019-2024, Ridwan Kamil beserta istri, serta Gubernur Jawa Barat periode 2009-2019, Ahmad Heryawan beserta istri. Kehadiran para tokoh ini semakin memperkuat posisi Masjid Trans sebagai pusat ibadah dan dakwah yang berpengaruh di tengah masyarakat.